Kami melintasi gelapnya pagi menyusuri jalanan Cibadak menuju Jakarta dengan menggunakan Inova. Hari itu Sabtu, tanggal 21 April 2018, ekskul book club akan berkunjung ke acara Islamic Book Fair (IBF) 2018 di Jakarta Convention Center (JCC). Ada 5 orang siswa yang mendapatkan kesempatan untuk bias dating pada acara IBF tersebut dan 1 orang guru yang siap untuk mendampingi kami pada hari itu. Karena lancarnya perjalanan pada pagi hari itu, kami berkesempatan untuk bisa melaksanakan sholat shubuh berjamaah di Masjid Jami Biru di daerah Bogor. Senandung sholawat dan dzikir yang merdu saat berada di masjid Masjid tersebut membuat rasa syukur kami semakin bertambah pada pagi hari itu. Selepas dari Masjid Jami Biru, kami istirahat sejenak di Rest Area KM 38 seraya melepas rasa lapar dengan sarapan.

            Setelah beristirahat sejenak, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan kami, yaitu JCC. Kami sampai di JCC kira-kira pada pukul 8.30 pagi. Setelah sampai, kami memilih untuk berjalan-jalan santai di sekitar JCC untuk menghabiskan waktu sembari menunggu dimulainya acara pada pukul 10 tepat. Seiring berjalannya waktu, pengunjung pun semakin ramai meskipun acara belum dimulai. Suasana tersebut sangat berlawanan dengan suasana ketika kami datang tadi pagi. Besarnya antusias para pengunjung, mereka tunjukkan dengan kesabaran mereka dalam menunggu dimulainya acara. Pengunjung yang datang sangat beragam. Ada yang datang dari jauh, ada yang datang dengan rombongan dari sekolahnya, ada yang berasal dari masyarakat sekitar, dan ada juga mahasiswa yang datang untuk mencari referensi seputar kuliahnya.

            Ketika waktu yang ditentukan telah tiba, para pengunjung termasuk kami masuk ke dalam ruangan dengan tertib. Untuk bisa masuk ke dalam ruangan, para pengunjung harus membayar tiket yang seharga 5 ribu rupiah. Penulis begitu terpana melihat ramainya pengunjung yang sudah masuk ke dalam ruangan dan banyaknya buku bagus yang dijajakan dengan diskon sekitar 20-30% yang menghiasi. Kami pun memutuskan untuk berpencar mencari buku-buku yang menarik perhatian kami. Banyaknya buku yang dijajakan oleh berbagai penerbit dengan harga yang bersahabat dan ramainya pengunjung membuat penulis terlambat untuk menghadiri acara meet and greet dengan Asma Nadia.

            Asma Nadia sendiri adalah salah satu dari pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) yang bertujuan untuk menjadi wadah bagi para penulis untuk mengasah kemampuan mereka dalam membuat karya tulis yang bermutu bagi generasi bangsa. Saat ini FLP sudah bekerja sama dengan lebih dari dari 30 penerbit. Asma Nadia juga merupakan salah satu dari novelis ternama di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa novelnya yang sudah menjadi best seller dan beberapa novelnya yang sudah difilmkan, salah satunya adalah “Surga Yang Tak Dirindukan.”

            Pada saat penulis dating, Asma Nadia sedang menghimbau para pengunjung dan seluruh umat muslim di Indonesia agar lebih mengutamakan menonton film yang bernafaskan islam saat di bioskop daripada menonton film horror yang banyak mengumbar aurat dan tidak jelas apa faedahnya. Sampai saat ini, rating film islami masih belum mampu untuk mengalahkan film horror, meskipun mayoritas dari rakyat Indonesia adalah beragama islam. Hal inilah yang sangat disayangkan oleh Asma Nadia.

            Acara Meet and greet dengan Asma Nadia pun berkahir seiring dengan dikumandangkannya adzan dzuhur. Masjid yang disediakan oleh panitia mampu menampung banyak jamaah untuk melaksanakan sholat, sehingga sholat pun dapat berjalan dengan tertib tanpa perlu berdesak-desakan. Para pengunjung sholat secara bergantian agar tidak berdesakan.

            Selepas sholat, kami berkumpul lagi di dekat photo booth sesuai dengan kesepakatan untuk makan siang bersama. Kami makan siang di food court yang berada di sebelah JCC. Di food court tersebut transaksi tidak dilakukan dengan menggunakan uang secara langsung, tetapi dengan menggunakan kartu yang telah kita isi saldo di kasir. Hal ini menunjukkan betapa majunya ibukota dalam hal teknologi, sehingga transaksi pun dapat berjalan lancer dan tidak perlu repot mengantri. Setelah memesan, pengunjung bisa meninggalkan tempat tersebut dan bisa berduduk santai di tempat duduk karena makanan yang telah dipesan akan diantarkan oleh pertugas yang bertugas.

            Tak terasa kami sudah waktu sekitar 5 jam berada di acara IBF tersebut. Ramainya pengunjung dari berbagai sekolah dan masyarakat sekitar membuat kami tak sadar bahwa waktu sudah semakin sore. Badan yang semakin letih dan isi dompet yang semakin menipis membuat kami tak punya pilihan lain selain kembali ke Sukabumi, meskipun buku yang dibeli masih dirasa belum cukup. Tepat pada pukul 15.30 kami pulang ke Sukabumi dengan membawa ilmu dan pengalaman serta buku baru tentunya yang tak boleh sampai ketinggalan. Para penulis Indonesia diharapkan dapat menghasilkan karya yang lebih bagus lagi sehingga dapat bersaing di tingkat internasional dan dapat meningkatkan minat baca di Indonesia. Sampai jumpai di IBF tahun depan.